728x90 AdSpace

­

Latest News

Selasa, 21 April 2026

Dikencani Genderuwo Belang yang Menjaga Sumur Tua


Jin yang suka mengumbar nafsu syahwat terhadap manusia seringkali menjadi sorotan di media cetak maupun elektronik. Kontroversi mengenai hubungan intim antara makhluk dari dua dunia terus bergulir hingga saat ini. Pendapat tentang kemungkinan hal tersebut pun bervariasi di masyarakat.

Beberapa sosok yang menggeluti dunia supranatural berkomentar bahwa jin hanya bisa melakukan hubungan intim dengan manusia setelah berwujud manusia. Namun, hal tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat.

Pada akhir tahun lalu, Desa Sleman, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dihebohkan oleh peristiwa kejahatan seksual yang dilakukan oleh Genderuwo Belang terhadap seorang ibu muda beranak dua. Genderuwo Belang terkenal sebagai jin yang mudah tergoda oleh wanita manusia, dan biasanya tinggal di sumur tua atau pohon kawak di sekitar pemukiman.

Korban kali ini adalah Ny. Wati, 28 tahun, seorang ibu dari dua anak dan istri dari Ngadino. Mereka berdua berasal dari daerah yang berbeda dan menikah setelah bertemu sebagai transmigran di Sumatera Selatan. Setelah pindah ke Sleman, mereka menetap di rumah kecil di dekat pabrik beras milik keluarga Wati. Ngadino bekerja keras untuk menambah penghasilan keluarga dengan mengobyek gabah, sedangkan Wati menikmati keberhasilan suaminya dengan gemerlap perhiasan emas.

Kehidupan mereka berdua berjalan lancar hingga suatu hari hujan deras turun setelah Ngadino pergi ke luar kota. Wati sibuk di dapur sementara para karyawan mengamankan jemuran gabah. Dalam kesibukan itu, Wati mendengarkan lagu dangdut di radio yang diputar di dapur. Suasana hangat dapur dan canda tawa radio berhasil meredakan keheningan di tengah guyuran hujan di luar.

Sambil bernyanyi kecil mengikuti lagu dangdut yang sedang diputar, jemari Wati dengan lincahnya memotong sayur dan daun polong. Di atas kompor, minyak dalam wajan mulai mendesis riuh saat sayur dan bumbu dimasak. Bau harum bumbu lodeh segera memenuhi dapur yang sempit, membuat Wati terus menyanyi sambil memasak.

Seketika, suara radio berubah dan Wati bergegas mengganti frekuensi untuk mendengarkan lagu dangdut. Tanpa disadari, suaminya Ngadino sudah lama memperhatikannya dari pintu dapur. Setelah kaget, Wati tersenyum manis ke arah suaminya dan bertanya dengan manja.

"Kok pulang cepat, Kang? Gabahnya sudah didapat belum?" tanya Wati.

"Cari gabahnya nanti saja. Aku pulang cepat karena sudah tak tahan," jawab Ngadino sambil tersenyum dan mendekati Wati.

Mereka berdua berpelukan, namun Wati merasa aneh karena meskipun hujan deras di luar, baju suaminya tetap kering. Namun, keisengan Ngadino berhasil mengalihkan pikiran Wati. Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar dengan penuh keceriaan.

Wati melihat Bik Inah, istri salah satu karyawan suaminya, sedang mengasuh Rita di serambi. Tidak seperti biasanya, Wati benar-benar terpikat oleh suaminya hari ini. Namun, saat suaminya selesai berhubungan intim, Wati menyadari sayur lodehnya hampir gosong. Dengan gerutu, dia pun memasak lagi sebelum mandi.

Ketika truk membawa gabah masuk ke halaman huller menjelang Maghrib, Ngadino gembira menceritakan keberhasilannya kepada Wati. Namun, Wati bingung dengan keanehan sikap suaminya yang pulang larut hanya untuk berhubungan badan sebentar sebelum pergi lagi mencari gabah. Keanehan itu membuat Wati semakin ragu.

Hari-hari berikutnya, Wati merasa terbuai oleh lamunan dan emosinya mudah terpancing. Kejengkelannya terhadap Inah membuatnya merasa bersalah. Namun, ketika Wati melihat Inah dengan tatapan iba, dia tersentuh dan meminta maaf. Kesalahpahaman mereka pun akhirnya teratasi.

Beberapa langkah di depannya berdiri Ngadino dengan pandangan penuh hasrat. Untuk pertama kalinya, dia menegur suaminya yang doyan menyusup ke dapur saat dirinya mulai memasak. Wati tidak mendapat jawaban selain rengkuhan hangat dari Ngadino. Saat direngkuh seperti itu, hasrat kewanitaannya langsung terpancing. Tanpa banyak pertanyaan lagi, Wati pun langsung mengikuti langkah suaminya menuju peraduan.

Cumbuan yang panas pun terjadi seperti biasa. Pakaian keduanya mulai tercecer di lantai. Di balik selimut, mulut dan tangan keduanya sibuk dengan aktivitas birahi yang bergelora. Pada detik-detik selanjutnya, yang terdengar hanyalah erangan dan rintihan dari celah bibir Wati mengimbangi orang yang dicintainya tengah mengayuh kenikmatan.

Setengah jam berlalu begitu cepat, dan kain selimut sudah melorot ke lantai. Kini keduanya mengayuh kenikmatan tanpa selembar penutup pun. Sebelum puncak birahi berhasil dicapai, daun pintu didobrak dari luar disusul cairan bening yang mengguyur punggung Ngadino dan sebagian membasahi dada Wati.

Hanya dalam hitungan detik setelah diguyur air bening, Wati merasakan ketakutan luar biasa. Sosok laki-laki di atas tubuhnya menggeram sangar dan tubuhnya bertambah berat menindihnya. Sebelum Wati sadar dengan apa yang telah terjadi, lengannya dibetot sangat kuat hingga tubuhnya terseret ke atas lantai.

Secara reflek, Wati buru-buru menyambar kain selimut untuk menutupi tubuhnya. Seketika Ngadino merengkuh tubuh Wati dengan penuh kasih. Sementara, di sampingnya tampak Ustadz Busro yang terus menerus membacakan ayat suci dengan ritme sangat cepat.

Sementara di atas ranjang yang ada bukan Ngadino, melainkan sosok bugil sangat mengerikan. Tubuhnya begitu besar nyaris memenuhi permukaan ranjang. Dan yang paling mengerikan adalah bentuk wajahnya. Wajah dan tubuhnya berkulit Zebra, berambut gimbal juga mengeluarkan bau apek yang teramat menyengat dan memenuhi ruang kamar tidur itu.

Makhluk menyeramkan itu menggerung-gerung histeris, karena kesakitan yang tak teranggungkan. Pada bagian punggung yang terkena siraman air mengepulkan asap bak air raksa yang melelehkan logam. Pelan-pelan makhluk itu duduk di atas ranjang dengan kepala nyaris menyentuh penyangga kelambu.

"Tidak kusangka, engkau ternyata Genderuwo Belang terkutuk!" Bentak Ustadz Busro.

"Hrrrhh ... ampoooon ... ampun ... ampun nusaaaa. Hanaaas ... hanaaasss!"

"Baik, engkau saya ampuni. Tapi, sebelum saya lepas, ada syarat yang harus kamu kerjakan. Sanggup?!" Tanya Ustadz Busro.

"Hatakan nusa. Apa syaratnya?"

"Pertama, bersihkan segala kotoranmu yang ada pada Bu Wati. Kedua, tinggalkan sumur tua itu dan jangan ulangi perbuatan bejatmu kepada wanita manapun dari bangsa manusia. Lakukan syarat itu, lekas!" Bentak Ustadz Busro.

Makhluk itu lenyap dalam sekejap, seiring Wati seolah merasakan ada sengatan listrik yang keluar dari alat vitalnya. Akibatnya, Wati pun terkulai tak sadarkan diri dalam pelukan suaminya, Ngadino.

Wati tak sadarkan diri nyaris seharian dan baru siuman bertepatan dengan lantunan adzan Maghrib dari corong mesjid.

Semoga pembaca sekalian dapat mengambil hikmah dari cerita ini, betapa, iblis tak jemu-jemu menggoda manusia sampai akhir dunia tiba. 



Dikencani Genderuwo Belang yang Menjaga Sumur Tua
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Top