Kisah ini didasarkan pada kesaksian Supena, yang disampaikan beberapa waktu yang lalu. Kejadian ini terjadi saat Supena masih menjabat sebagai sekretaris desa di sebuah desa di kecamatan Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Seorang lelaki semakin menderita setelah kehilangan anak perempuannya yang berusia lima tahun karena meninggal di pinggir sungai Cipunagara. Sejak kejadian itu, lelaki bernama Dirta seringkali ditemui sedang melamun di tepi sungai tersebut, kadang-kadang dia bicara sendirian dan tersenyum. Dia terus merenungkan rasa penyesalan dalam hatinya yang membuatnya tergoncang.
Musim kemarau panjang mendekati akhir tahun. Kondisi ekonomi yang sulit menyebabkan banyak warga terpaksa makan nasi aking. Kejahatan semakin meningkat di berbagai perkampungan, dengan banyak kasus pencurian dan perampokan yang melanda.
Sebagai sekretaris desa, aku merasa kewalahan dengan laporan-laporan dari warga terkait kejahatan dan kondisi ekonomi yang sulit. Namun, ada satu laporan yang menarik perhatianku, yaitu mengenai kematian seorang bocah lima tahun yang tenggelam di sungai Cipunagara.
Dengan bantuan warga, aku melakukan pencarian jasad bocah tersebut di sepanjang sungai Cipunagara. Meskipun pencarian dilakukan dengan penuh semangat, namun hingga menjelang maghrib jasad anak tersebut belum juga ditemukan.
Rerimbunan alang-alang dan semak-semak di pinggiran sungai juga diperiksa dengan seksama dalam upaya menemukan jasad korban. Meskipun pencarian tidak membuahkan hasil, semangat warga tetap tinggi hingga akhirnya pencarian dihentikan menjelang maghrib.
Seluruh penduduk desa berkumpul di rumah Dirta untuk mengadakan pertemuan guna mencari solusi untuk mendapatkan kembali jasad anak perempuannya. Sungai Cipunangara saat itu terlihat sangat dangkal karena musim kemarau, sehingga hampir tidak ada aliran air. Karena itu, hampir tidak mungkin jasad anak perempuan si Dirta terseret jauh oleh arus sungai.
Ketika situasi terasa buntu, tiba-tiba salah seorang warga mengusulkan untuk memanggil seorang pawang buaya. Ide ini langsung mendapat sambutan dari warga lainnya. Meskipun pawang buaya tersebut berasal dari jauh, mereka yakin bahwa pawang buaya tersebut dapat membantu menemukan jasad anak perempuan si Dirta.
Esok paginya, aku mengutus seseorang untuk pergi ke Haurgeulis guna menjemput pawang buaya tersebut. Sementara menunggu kedatangannya, kami terus mencari jasad anak yang tenggelam di sungai. Namun, sampai menjelang waktu Dzuhur, pawang buaya tersebut belum juga tiba.
Sungai Cipunangara memang dikenal sebagai tempat yang penuh dengan mitos dan cerita mistis. Banyak kejadian tragis yang terjadi di sekitar sungai itu, termasuk penemuan mayat-mayat yang tidak utuh akibat arus sungai yang ganas.
Akhirnya, pawang buaya yang ditunggu datang. Setelah mendengarkan cerita dari Dirta, pawang buaya tersebut memberikan kabar bahwa anaknya berada dalam suatu tempat yang aman, meskipun bukan di alam manusia. Ia menawarkan bantuan untuk membantu mengembalikan anak tersebut, namun dengan syarat bahwa apa pun yang dilihat oleh Dirta harus diakui.
Dengan didampingi oleh pawang buaya dan saya sebagai saksi, kami berangkat ke alam lelembut penguasa kerajaan Kedung Cipunagara untuk mencari jasad anak perempuan si Dirta. Semua orang yang hadir menyaksikan perjalanan ini dengan harapan agar anak tersebut dapat kembali dengan selamat.
Abah memerintahkan yang lain untuk menunggu di bibir sungai. Sementara aku dan Dirta diminta turun ke air. Sang pawang berada di antara aku dan Dirta. Tangan kananku dipegang erat oleh tangan kiri Abah, dan tangan kiri Dirta dipegang erat oleh tangan kanan Abah. Kami diinstruksikan untuk menghadap ke tengah sungai, memejamkan mata, dan dilarang membukanya sebelum ada perintah dari Abah. "Jangan menoleh ke belakang!" pesan Abah.
Setelah beberapa saat, Abah menyuruh kami membuka mata. Anehnya, ketika aku membuka mata, kami tidak berada di sungai Cipunagara lagi, melainkan di sebuah jalan dengan bunga-bunga indah di sampingnya. Rumah-rumah tertata rapi dan bersih tanpa sampah. Kami melanjutkan perjalanan melalui jalan yang memukau, bertemu dengan penduduk yang ramah dan berpakaian hitam seragam.
Kami mengikuti Abah melalui jalan ini, bertemu dengan banyak orang di sepanjang perjalanan. Abah bersalaman dan berbincang-bincang dengan mereka seolah sudah saling kenal sebelumnya. Abah pun memberitahuku bahwa kami berada di dasar sungai Cipunagara dan sedang menuju ke tempat di mana anak Dirta berada.
Kami tiba di sebuah gapura dengan penjaga yang gagah berani. Abah memberi salam dan berbicara dengan mereka sebelum kami diizinkan masuk ke istana. Saat kami sampai di paseban, kami disambut dengan ramah. Kami duduk di hadapan seorang raja yang sangat dihormati oleh rakyatnya.
"Selamat datang di negeri kami. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang raja.
Sebelum Abah menjawab, kami memberikan penghormatan kepada sang raja. Abah pun menjelaskan tujuan kedatangan kami ke negeri Kedung Cipunagara. Seluruh kejadian ini membuat kami merasa seolah berada dalam dunia mimpi, namun rasa sakit dari cubitan tanganku membuatku sadar bahwa ini adalah kenyataan. Kami semua merenungkan banyak pertanyaan yang belum terungkap selama perjalanan ini. Semoga Tuhan melindungi kami semua.
"Diterima dengan hormat Abah. Salam sejahtera untuk bangsa manusia yang dianggap lebih mulia di sisi Sang Pencipta alam semesta," kata sang raja dengan rendah hati, sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih atas sambutannya dan doa yang diberikan, Paduka. Pertama-tama, Abah akan memperkenalkan orang-orang yang dibawa, yang pertama adalah juru tulis Supena," ujar Abah sambil menunjuk ke arah saya. "Dan di sebelahnya, Dirta, warga dari Pak Ulis Supena. Abah hadir di sini hanya sebagai perantara. Abah hanya membantu Dirta, yang sedang mengalami kesulitan. Sekarang, ceritakanlah sendiri masalah yang kamu hadapi kepada sang raja," lanjut Abah sambil mengisyaratkan agar Dirta bicara sendiri.
Dirta terlihat gugup dan bingung saat diberi kesempatan untuk berbicara sendiri. Melihat keadaan Dirta, tanpa diminta, saya pun mengambil alih untuk menjelaskan maksud kedatangan mereka.
"Kira-kira dua hari yang lalu, anak perempuan Dirta bermain dengan temannya di tepi sungai Cipunagara. Namun, temannya pulang dan memberitahu warga kampung bahwa anak Dirta terperosok ke sungai dan tidak muncul lagi hingga sekarang. Oleh karena itu, kami datang ke sini untuk menanyakan apakah anak Dirta ada di sini, Paduka. Dan jika memang ada, kami ingin membawa pulang anak tersebut," paparku dengan lembut agar tidak menyinggung perasaan siapapun.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang anak perempuan Dirta, sang raja meminta pendapat para patih yang hadir dengan suara lantang, membuat saya terkejut.
"Wahai para patih, apakah ada di antara kalian yang berani mengganggu manusia?" tanya sang raja dengan tegas.
Para patih segera menegaskan bahwa mereka tidak pernah melanggar aturan yang melarang mengganggu manusia, seperti yang telah ditetapkan nenek moyang mereka. Sang raja kemudian meminta klarifikasi dari Dirta dan Abah.
Setelah menjelaskan bahwa mereka hanya ingin menanyakan keberadaan anak Dirta, sang raja menyatakan bahwa manusia memiliki derajat yang lebih tinggi dan tidak boleh diusik. Suasana ruangan menjadi hening.
"Sudahkah ada laporan tentang kejadian dua hari yang lalu?" tanya sang raja kepada para patih.
Salah satu patih memberitahu bahwa mereka hanya menerima laporan mengenai seekor anak kambing yang merusak tanaman, bukan mengenai anak perempuan Dirta.
Sang raja kemudian menanyakan kepada Dirta apakah anak kambing tersebut miliknya, namun Dirta membantah dengan tegas.
Abah merasa kecewa melihat sikap Dirta yang tidak mendengarkan nasehat sebelumnya. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan di hadapan sang raja.
Setelah berbasa-basi, kami pun akhirnya pamit pulang. Dan dengan keajaiban, saat kami membuka mata, kami sudah berada di tepi sungai Cipunagara tanpa basah sedikit pun. Pengalaman yang tak terlupakan, namun juga penuh penyesalan.
"Dunia kita dan dunia siluman buaya memiliki perbedaan yang sangat jelas. Tidak seperti cara manusia melihat sesama manusia. Ketika buaya asli muncul di permukaan air dan menyerang manusia, mereka tidak lagi terlihat sebagai manusia, melainkan bisa berubah menjadi kambing, babi, atau hewan lain.
Demikian pula sebaliknya, ketika manusia melihat buaya hanya dengan mata biasa, mereka akan terlihat seperti buaya. Namun, jika dilihat dengan mata batin, akan terasa kedekatan antara sesama makhluk ciptaan Tuhan seperti yang dialami oleh Pak Ulis Supena bersama Abah.
"Bagaimana nasib anak Dirta, Abah? Apakah tubuhnya akan terapung dan bisa kita kubur dengan layak?" tanyaku, penuh rasa penasaran.
"Mudah-mudahan," jawab Abah dengan nada datar.
Enam bulan telah berlalu sejak Dirta menunggu dengan sia-sia di tepi sungai Cipunagara, putrinya hanya datang dalam mimpi dan memberinya senyuman.
"Ayahku tidak jauh darimu. Perhatikan anakmu menjelang maghrib di Cipunagara. Dia pasti ada!" pesannya.
Batinnya terguncang saat pertama kali melihat pemandangan yang besar dan panjang menunggunya di tepi sungai. Namun, itu hanyalah seekor buaya. Buaya itu kemudian menghilang ke dalam air.
Dengan jeritan keras, Dirta memanggil nama putrinya sekuat tenaga. Sejak saat itu, setiap menjelang Maghrib, Dirta duduk di tepi sungai Cipunagara menantikan putrinya. Terkadang ia tertawa, terkadang ia menangis memanggil-manggil nama sang anak.
Ketika aku pensiun dari pekerjaan sebagai juru tulis karena usia tua, jasad anak Dirta tidak pernah ditemukan. Bahkan Dirta sendiri menghilang entah ke mana. Warga tidak tahu keberadaannya, hanya ada sosok kecil yang kadang-kadang muncul menjelang malam dan mengganggu warga yang sedang mandi di sungai."

0 komentar:
Posting Komentar