728x90 AdSpace

­

Latest News

Rabu, 15 April 2026

Baju Sakti bagi Para Pengemis


Meskipun sebagai pengemis, kehidupan para penghuni Kampung Sumberglagah tergolong cukup sejahtera. Bahkan, setiap usai lebaran, mereka tidur di atas tumpukan uang.

Saat langkah memasuki Kampung Sumberglagah, udara sejuk menyapa. Meskipun terlihat seperti perkampungan lainnya, namun kampung ini memiliki keistimewaan tersendiri. Para mantan penderita kusta yang dulu diusir oleh keluarga dan masyarakat, kini menemukan tempat mereka di sini.

Kondisi sulit mencari pekerjaan akibat penyakit yang pernah mereka derita membuat mereka beralih profesi menjadi pengemis. Tak heran jika kampung ini lebih dikenal sebagai kampung pengemis. Namun belakangan, dengan seringnya penertiban, para pengemis harus berhati-hati. Mereka bahkan menyewa tukang ojek agar terhindar dari penangkapan oleh SATPOL PP.

Saat Ramadhan tiba, para pengemis bersiap-siap dengan seksama. Ritual 'menyanggarkan' dan persiapan lainnya dilakukan dengan penuh kepercayaan. Mereka juga percaya pada 'pengasihan' agar dapat mendapatkan lebih banyak belas kasihan dari para dermawan.

Dengan pengasihan, penghasilan mereka bisa mencapai Rp. 3.000.000,00 per hari, dua kali lipat jika dibandingkan dengan tanpa pengasihan. Meskipun profesi pengemis terkesan sepele, namun bagi mereka, ini adalah cara untuk bertahan hidup dengan cara yang terhormat.

Misteri terdiam sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tak lama kemudian, si pengemis kembali bercerita dengan bangga; "Saat bulan puasa tiba, penghasilan biasa-biasa saja bisa mencapai dua hingga tiga ratus ribu, bayangkan jika menggunakan pengasihan. Setiap bulan puasa, penghasilan kami meningkat hingga lima kali lipat," ujarnya penuh semangat.

"Ibahnya, ada tetangga yang tidak pernah mencuci bajunya selama setahun penuh, saat puasa lalu, berhasil mengumpulkan uang hingga sepuluh juta rupiah. Jika pengasihannya semakin kuat, jangan pernah mencuci baju yang digunakan untuk mengemis seumur hidup. Setiap bulan puasa, penghasilan kami rata-rata meningkat hingga lima kali lipat," tambahnya semangat. Ia kemudian menceritakan keberhasilan tetangganya yang pergi naik pesawat ke Pulau Batam hanya untuk mengemis, dan kembali setelah Hari Raya Idul Fitri dengan membawa uang tunai sekitar sepuluh juta rupiah.

Misteri penasaran dan mulai melakukan penelusuran lebih lanjut terkait dengan makam atau tempat keramat yang digunakan para pengemis di Kampung Sumberglagah untuk mencari berkah. Ternyata setiap pengemis memiliki tempat keramat sendiri-sendiri. Ada yang meletakkan baju besarnya di tempat peninggalan masa lalu, sementara yang lain memilih makam yang dianggap keramat oleh penduduk sekitar.

Tidak bisa dipungkiri, semakin angker dan mistis tempat tersebut, semakin besar harapan mereka untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Hal ini sejalan dengan pengakuan salah seorang pengemis tentang keberhasilan tetangganya di Jakarta dan Bali.

Kisah tentang dua pengemis yang dianggap terbuang oleh keluarga dan lingkungannya juga terungkap. Mereka pergi ke hutan yang angker dengan tujuan meraih kesuksesan atau mati. Setelah menjalani tapa brata selama empat puluh hari, muncul sosok misterius yang menawarkan keberhasilan dengan satu syarat; jangan pernah mencuci baju seumur hidup, dan kembalikan baju hitam itu jika sudah cukup.

Dengan cara yang unik, kedua pengemis itu menerima anugerah tersebut dan siap menghadapi perjalanan hidup baru.

"Pesan saya, jangan pernah lupakan untuk membantu orang yang benar-benar membutuhkan," katanya sambil sosok tersebut tiba-tiba menghilang dari pandangan mata.

Esok paginya, keduanya bertemu dan saling berbagi pengalaman. Mulai dari situlah, keduanya memutuskan untuk hidup sebagai pengemis dan akhirnya berhasil membangun rumah tangga yang bahagia serta memiliki anak-anak yang sehat.

Namun, seorang tokoh masyarakat yang mengamati kehidupan di Kampung Sumberglagah berkata kepada Misteri, "Sayangnya, generasi muda di kampung ini belum tergerak untuk berubah. Mereka lebih nyaman dengan cara mengemis daripada bekerja dengan cara yang lebih terhormat."

"Lalu, apa yang sebenarnya mereka tidak miliki saat ini?" tanya Misteri. "Hanya dengan didikan moral dan pendidikan formal, mereka bisa keluar dari lingkaran aktivitas yang dilakukan oleh generasi sebelumnya. Dengan begitu, Sumberglagah bisa menjadi kampung yang makmur dan dihormati seperti kampung-kampung lainnya," lanjutnya sebelum senja turun menyambut langkah Misteri pulang. 



Baju Sakti bagi Para Pengemis
  • Title : Baju Sakti bagi Para Pengemis
  • Posted by :
  • Date : April 15, 2026
  • Labels :
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Top