728x90 AdSpace

­

Latest News

Rabu, 15 April 2026

Buto Ijo Mengambil Nyawa Adikku Sebagai Korban Tumbal


Darman hanya bisa mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat untuk meredakan rasa sesak yang menyergap dadanya. Belum genap enam bulan sejak ia merantau ke Jakarta, seorang adiknya yang bekerja di toko hasil bumi terbesar di kota tersebut tiba-tiba meninggal dunia tanpa alasan yang jelas.

Darman tidak bisa menyalahkan nasib keluarganya yang terus-menerus dilanda kemiskinan - ibunya meninggal beberapa bulan setelah melahirkan Darto, adik bungsunya, dan ayah mereka pun mengikuti tak lama setelahnya. Sejak saat itu, Darman sebagai anak tertua harus bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarga kecil itu.

Meskipun masih berusia 12 tahun, Darman tidak pernah mengeluh atau menyerah. Setiap pagi, ia menjajakan koran di sekitar terminal dan kembali ke rumah menjelang pukul 10 dengan membawa tiga bungkus nasi rames untuk adik-adiknya yang masih kecil. Setelah makan bersama, ia kembali menjajakan koran hingga menjelang tengah hari.

Itulah rutinitas harian Darman. Sebelum Maghrib, ia selalu mengajak adik-adiknya untuk belajar mengaji di surau Ustadz Samsuri, seorang lelaki paruh baya yang dengan sabar mengajari mereka membaca, menulis, dan belajar agama. Oleh karena itu, meskipun mereka tidak mendapatkan rapor seperti anak-anak sekolah pada umumnya, Darman dan adik-adiknya cukup menguasai berbagai pelajaran yang diajarkan di sekolah.

Tidak heran jika Darman dan adik-adiknya menganggap Ustadz Samsuri sebagai ayah angkat mereka. Bahkan, perbuatan Darman selama ini menjadi inspirasi bagi adik-adiknya, Tato dan Robin, untuk mengikuti jejaknya. Setelah belajar mengaji, membaca, dan menulis dengan lancar, mereka berdua bertekad untuk bekerja di toko hasil bumi kota mereka, dengan tujuan membuat Darto bangga.

Setelah memutuskan, mereka langsung berbicara dengan Ustadz Samsuri tentang keinginan mereka. Meskipun awalnya ditolak karena alasan usia mereka yang masih terlalu muda untuk bekerja, tekad mereka tidak terbendung. Terutama Darman yang bersikeras untuk membawa nasib keluarganya di Jakarta.

Akhirnya, Darman berangkat ke Jakarta, sementara Tato dan Robin bekerja di toko hasil bumi. Karena sikap sopan dan kejujuran mereka, para pemilik toko memberikan perhatian khusus kepada mereka. Namun, desas-desus di antara para pekerja mulai berkembang. "Mereka mungkin akan dijadikan tumbal selanjutnya," ujar Tarjo, salah satu pekerja yang sudah lama bekerja di tempat tersebut.

"Hush ..," tegur salah satu dari mereka mengingatkan. "Kita lihat saja nanti," tambah Tarjo dengan penuh kepercayaan.

Lama kelamaan, bisikan-bisikan itu akhirnya sampai juga ke telinga Tato dan Robin. Hati keduanya langsung merasa cemas. Untuk menenangkan diri, Tato segera menceritakan hal tersebut melalui SMS kepada kakaknya, Darman. Darman mengingatkan agar mereka tidak bersikap buruk terhadap orang yang telah berbuat baik kepada mereka.

Jawaban kakak mereka membuat Tato dan Robin menjadi lebih tenang. Mereka tak lagi memikirkan bisikan-bisikan yang semakin ramai di kalangan rekan kerja. Namun, suatu malam, suasana kamar tiba-tiba terasa sangat pengap bagi Robin. Ia memutuskan untuk tidur di luar, tepatnya di gudang, karena Tato sedang sakit batuk dan demam selama tiga hari.

Saat malam semakin larut, kegelisahan yang dirasakan oleh Robin semakin menjadi. Ia pun mulai membaca ayat-ayat yang dihafalnya untuk menenangkan diri. Dan tiba-tiba, di antara kesadaran dan tidak, Robin melihat sesosok tubuh tinggi besar dengan cahaya hijau melintas di hadapannya dengan meninggalkan bau busuk yang menyengat.

"Astagfirullah," terucap dari bibir Robin. Ia terus mengucapkan kalimat "Allah ... Allah ... Allah," sampai akhirnya tertidur.

Di tempat lain, Tato yang sedang terlelap tidak menyadari bahwa maut sedang mengintainya. Dalam sekejap, tubuh tinggi besar dengan cahaya hijau itu menyerangnya dengan mematikan. Tato tak berdaya dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan wajah penuh kesakitan.

Pagi harinya, semua menjadi gaduh. Robin, yang baru saja menunaikan salat Subuh dan hendak membangunkan Tato, teriak meminta pertolongan. Semua pegawai yang menginap bergegas ke arah Robin. Melihat kondisi Tato yang sudah tak bernyawa, mereka hanya bisa mengucapkan kata-kata belasungkawa.

Pemilik tempat tersebut kemudian datang dengan penuh perhatian. Ia menyesali bahwa Tato tidak memberitahu jika merasa sakit, sehingga bisa langsung dibawa ke dokter. Robin, dalam keadaan tergugu, segera menghubungi Darman untuk memberitahu tentang kematian Tato.

Maka, Tato segera dimakamkan di tempat pemakaman desa, di dekat makam orang tuanya. Semua biaya ditanggung oleh pemilik tempat tersebut, dan Robin diberi cuti selama seminggu.

Keesokan harinya, saat Darman datang, Robin hanya bisa memeluknya sambil menangis sedih dan meminta maaf karena tidak bisa menjaga kakaknya dengan baik.

"Ikhlaslah ... jika itu kehendak Allah. Tetapi jika ada sebab lain, aku akan membela hingga titik darah penghabisan," ucap Darman dengan berat hati.

Ustadz Samsuri mendengar percakapan mereka dan menenangkan Darman, mengingatkan untuk ikhlas dan membiarkan Allah yang menentukan segalanya.

Sehari saja Darman tinggal di kampung halamannya, sebelum kembali ke Jakarta, ia memberi nasihat kepada Robin agar selalu kembali ke rumah jika sakit. Robin berjanji akan mengingat pesan itu.

Setelah berziarah ke makam orang tuanya dan meminta restu, Darman berangkat kembali ke Jakarta. Di terminal bus, ia bertemu dengan Tono, sahabat lamanya yang dulu menjajakan koran bersamanya di terminal ketika kecil.

Setelah bertukar kabar, Tono akhirnya menanyakan alasan Darman pulang ke kampung halamannya. Darman dengan singkat menceritakan musibah yang menimpanya. Tono menyarankan agar Darman mengunjungi saat Robin sakit, dan Darman setuju.

Beberapa bulan kemudian, Darman mendapat kabar bahwa Robin sakit. Darman segera meminta Robin pulang ke rumahnya. Robin akhirnya mendapatkan izin setelah berbicara dengan keluarga dan teman-temannya.

Ketika Darman bertemu dengan Tono, Tono memperkenalkan ilmu Caraka Balik yang berguna untuk melawan gangguan iblis dan setan. Darman nekat mencoba ilmu tersebut, meskipun dilarang oleh Ustadz Samsuri.

Saat melakukan ritual, Darman diserang oleh makhluk kegelapan. Namun, dengan tekad yang kuat dan menggunakan ilmu Caraka Balik, Darman berhasil mengusir makhluk itu. Sayangnya, rumah juragan yang jauh disana terbakar tanpa sebab yang jelas.

Caraka Balik tetap menjadi penangkal ilmu hitam yang digunakan oleh banyak orang hingga sekarang.


 

Buto Ijo Mengambil Nyawa Adikku Sebagai Korban Tumbal
  • Title : Buto Ijo Mengambil Nyawa Adikku Sebagai Korban Tumbal
  • Posted by :
  • Date : April 15, 2026
  • Labels :
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Top