Pada hari Minggu pertengahan 2011, suasana hati Mulyana tak seperti biasanya. Dia sedang terdiam di rumah, tiba-tiba teringat pada Ujang, teman lamanya yang sudah hampir setahun tidak bertemu. Mulyana mencoba menghubungi Ujang melalui HP, namun sayangnya nomornya sudah tidak aktif.
Rasa penasaran membuat Mulyana akhirnya mengunjungi rumah Ujang dengan motor tuanya. Beruntung Ujang ada di rumah dan mereka pun berbincang panjang lebar untuk melepas rindu. Saat berbicara tentang pekerjaan, Ujang sebagai PNS menceritakan pengalaman di kantor kecamatan, sementara Mulyana bercerita tentang bisnisnya.
Mulyana curhat mengenai kesulitan bisnisnya yang semakin menurun, disertai dengan pengeluaran yang semakin besar namun pendapatan yang tidak seimbang. Ujang menyadari ada yang ganjil dalam kehidupan Mulyana dan menyebut ada tiga makhluk halus yang menempel pada tubuhnya, kiriman dari seseorang yang tidak menyukainya.
Ujang yang telah mendalami ilmu kebatinan meminta bantuan temannya, Sidik, untuk membantu Mulyana. Setelah shalat Ashar, mereka bertiga melakukan sesi untuk membuktikan keberadaan makhluk halus di tubuh Mulyana. Sidik berhasil menarik makhluk tersebut keluar dari tubuh Mulyana dan memasukkannya ke dalam tubuh Ujang.
Mulyana terkejut melihat kejadian tersebut, akhirnya percaya bahwa memang ada makhluk halus yang ditanam di dalam tubuhnya. Semuanya berkat pertemuan tak terduga dan bantuan dari Ujang dan Sidik, yang membantu Mulyana menyingkap misteri yang menghantui bisnis dan kehidupannya.
"Saya siapa? Dari mana asal saya?" tanya Sidik pada makhluk tersebut.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya. Saya berasal dari Panguragan dan disuruh oleh majikan saya untuk menghancurkan orang ini! Bahkan saya sudah menempatkan tentara saya di rumah orang ini!" jawab makhluk itu kasar sambil menunjuk ke arah Mulyana sambil tertawa menyeramkan.
"Anda tidak boleh ikut campur urusan manusia apalagi mencelakakan dia, sekarang bertobatlah, jangan ganggu dia dan tinggalkan tubuh pemuda ini," ujar Sidik.
"Hahaha... jangan coba-coba menghalangi urusan saya kalau tidak mau celaka," ujar makhluk itu geram.
Seketika tubuh Ujang bangkit dan menyerang Sidik, namun dengan tenang Sidik mengibaskan tangannya. Tubuh Ujang terpental sekitar 3 meter dan makhluk itu menjerit-jerit kesakitan hingga akhirnya beberapa saat kemudian tubuh Ujang tidak bergerak lagi.
"Makhluk itu sejenis Butoijo dan dia sudah binasa," ujar Sidik pada Mulyana. Lalu Sidik menyadarkan kembali Ujang seperti sediakala. Ujang dan Sidik lalu menceritakan pada Mulyana bahwa benar di dalam tubuhnya memang ada 3 makhluk halus dan jelas itu kiriman dari orang yang tidak menyukainya. Mulyana terkejut karena selama ini dia merasa tidak pernah memiliki musuh.
"Besok malam saya, Sidik, dan teman-teman akan melakukan kontemplasi dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi denganmu. Kalau kamu berkenan, besok malam kami akan ke rumahmu dan mencoba menyelesaikannya. Masih ada dua makhluk gaib lagi di tubuhmu," jelas Ujang.
"Baiklah, datang saja ke rumah besok, saya akan menunggu. Saya juga ingin terlepas dari guna-guna ini. Sekarang saya pamit dulu," jawab Mulyana sambil pergi dengan perasaan campur aduk. Esok malamnya, sesuai janji, Sidik dan Ujang datang ke rumah Mulyana. Setelah melakukan peneropongan pada malam sebelumnya, Ujang menjelaskan bahwa guna-guna tersebut melekat tidak hanya pada Mulyana, tetapi juga pada adiknya, ibunya, dan rumahnya.
Guna-guna ini dikirim oleh seorang rekan kerja almarhum ayah Mulyana yang iri dengan keluarganya. Orang tersebut ingin menghancurkan keluarga Mulyana secara pelan-pelan terutama dari segi ekonomi. Pembersihan guna-guna pun dimulai dengan pembacaan doa-doa dan tawasul. Pembersihan dilakukan pertama kali pada tubuh Mulyana, di mana ditemukan seorang kuntilanak dan seorang jin hitam yang bertugas melemahkan pemikiran Mulyana dan menghambat bisnisnya.
Selanjutnya dilakukan pembersihan pada tubuh ibu Mulyana dan adiknya, di mana juga ditemukan makhluk gaib yang bertugas mematikan pikiran dan membangkitkan rasa malas. Terakhir, dilakukan pembersihan di rumah Mulyana, di mana terdapat 21 makhluk gaib yang membuat suasana rumah tidak nyaman dengan tujuan menghambat produktivitas keluarga Mulyana.
Setelah pembersihan dilakukan, keluarga Mulyana akhirnya terbebas dari pengaruh guna-guna tersebut. Mulyana, ibunya, dan adiknya merasa lega dan berterima kasih pada Sidik dan Ujang. Mereka tidak akan melupakan bantuan besar yang telah diberikan untuk mengembalikan kehidupan mereka menjadi normal. Semuanya berakhir dengan damai dan keberkahan.
Semua makhluk yang dikirim untuk mengganggu keluarga Mulyana melawan saat mediasi, karena mereka lebih memilih untuk mati daripada gagal dalam misi menghancurkan keluarga tersebut. Beruntungnya, Sidik berhasil membinasakan semua makhluk tersebut. Setelah kejadian itu, Sidik dan Ujang melakukan pemagaran di rumah Mulyana untuk mencegah serangan serupa di masa depan dan membersihkan sisa-sisa energi negatif yang mungkin masih ada.
Ujang dan Sidik menegaskan kepada Mulyana dan keluarganya agar tidak mencari tahu siapa pelakunya, karena konsekuensinya akan diterima oleh pelaku sendiri setelah energi negatif dibersihkan. Mulyana dan keluarga menerimanya dengan lapang dada, fokus pada pemulihan dan kebebasan dari gangguan tersebut. Setelah itu, bisnis Mulyana mulai mengalami perkembangan positif. Mulyana merasa lebih nyaman dan semangat dalam menjalankan usahanya, mampu menyelesaikan masalah dengan baik. Kejadian tersebut memberikan energi baru bagi Mulyana untuk terus maju dalam bisnisnya.

0 komentar:
Posting Komentar