Pasar Kota Sukoharjo telah direncanakan untuk direnovasi oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo beberapa waktu yang lalu. Namun, baru pada tahun 2012 rencana pembangunan pasar Kota Sukoharjo akhirnya terwujud, bersama dengan beberapa pasar tradisional lain di seluruh Indonesia yang direncanakan akan direvitalisasi oleh pemerintah pusat.
Pasar utama Kota Sukoharjo bukan hanya berfungsi sebagai pasar tradisional, tetapi juga sebagai terminal angkutan umum dari dalam kota ke daerah pedesaan lain di Kabupaten Sukoharjo. Pasar tradisional ini telah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan Indonesia, dan menurut cerita dari para sesepuh, pasar ini pernah diresmikan oleh Presiden Soekarno. Dahulu, pasar ini dikenal dengan nama pasar Bung Karno, namun seiring dengan perkembangan zaman, pasar tersebut berubah nama menjadi pasar Kota Sukoharjo. Pasar yang awalnya digunakan untuk berbagai kegiatan jual beli dan tukar menukar hasil bumi kini telah mengalami modernisasi.
Pada bulan Maret tahun 2012, setelah pasar kota ini dibongkar untuk direvitalisasi menjadi pasar tradisional kembali, Bupati Sukoharjo secara resmi mengubah namanya menjadi Pasar Ir. Soekarno. Namun, proses pembangunan pasar tradisional ini mengalami kendala, terutama saat pembongkaran pasar dimulai, terjadi hujan lebat dan angin kencang yang hanya terjadi di sekitar pasar. "Angin kencang menerpa dengan keras apa pun yang ada di sekitar saat itu, bahkan pohon yang seharusnya ditebang oleh kontraktor, roboh dengan sendirinya karena hembusan angin yang sangat kuat di daerah tersebut," ujar seorang ibu pemilik toko yang enggan disebutkan namanya.
Rumah yang terletak tepat di belakang pasar Kota Sukoharjo dan dimiliki oleh seorang warga asli daerah itu, Ibu pemilik titipan sepeda ini setiap hari sering menyaksikan keanehan dan kejanggalan yang terjadi saat awal pembangunan Pasar. Kejanggalan itu tidak hanya terjadi saat hujan dan angin puting beliung datang saat pembongkaran pasar dimulai, tetapi juga sering terjadi di pasar ini saat masih beroperasi. Di masa lalu, di pasar ini terdapat sebuah pohon beringin yang berusia ratusan tahun. Tanpa ada tanda-tanda angin atau hujan, pohon itu tiba-tiba tumbang dengan sendirinya, padahal sebelumnya tidak menunjukkan tanda-tanda layu.
Selain itu, seorang lurah pasar pernah mengalami nasib malang saat berada di pasar Kota Sukoharjo. Di sebelah barat pohon beringin, dibangun beberapa kamar mandi umum dan sebuah mushola serta sumur untuk digunakan oleh masyarakat umum. Di sebelah mushola, ada lahan kosong yang digunakan oleh pedagang dan pembeli untuk istirahat setelah sholat di mushola. Meskipun beberapa pedagang menyarankan agar lahan kosong tersebut tidak dijual, lurah pasar tetap menjualnya demi keuntungan pribadi. Akibatnya, lurah pasar jatuh sakit dan meninggal dunia setelah merasa dihantui oleh keputusannya sendiri.
Pembangunan pasar tradisional di Sukoharjo juga dipenuhi dengan kejanggalan. Setelah pasar lama dirobohkan, beberapa bangunan sulit untuk diratakan. Meskipun atapnya telah dibongkar, bangunan-bangunan tersebut tetap tegar berdiri. Alat berat yang digunakan untuk pembongkaran tidak mampu merobohkan mushola, kamar mandi, dan sumur yang tersisa. Kejadian ini membuat operator alat berat merasa takut dan akhirnya melarikan diri, menyebabkan kematian mendadak bagi orang tuanya.
Seorang anak indigo yang mampu melihat hal-hal gaib mengungkapkan bahwa tempat itu dijaga oleh seorang kakek tua dan seekor ular besar. Menurutnya, sebelum merobohkan tempat itu, harus meminta izin terlebih dahulu. Para pekerja yang mengabaikan hal-hal gaib di tempat tersebut berisiko mengalami kejadian yang tidak diinginkan.

0 komentar:
Posting Komentar