Tidak ada seorang pun suami yang rela hidup jauh dari anak dan istrinya kecuali karena terpaksa. Ya, karena keterpaksaan itulah saya harus berpisah dengan isteri dan anak-anak saya yang masih kecil. Saya terpaksa meninggalkan mereka demi mencari nafkah untuk keluarga. Sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji layak di Tanah Air, jadi saya memutuskan untuk mencari rezeki ke luar negeri. Saudi Arabia adalah tujuan saya. Di negara kaya minyak ini, saya bekerja sebagai sopir untuk keluarga kaya.
Setelah tiga bulan bekerja di luar negeri, Alhamdulillah saya sudah bisa mengirim uang kepada isteri dan anak-anak dengan jumlah yang cukup besar bagi saya. Meskipun saya tidak bisa melihat reaksi mereka saat menerima uang tersebut, saya dapat membayangkan betapa bangganya isteri saya karena suami tercinta telah berhasil mendapatkan pekerjaan setelah mengorbankan waktu yang cukup berat. Sekarang, isteri saya tidak perlu merasa malu lagi di hadapan orang tuanya, karena suami yang dicintainya sudah bisa menunjukkan kepeduliannya kepada keluarga.
Saya sadar bahwa selama ini hubungan saya dengan orang tua isteri saya tidak begitu harmonis. Sejak pacaran dengan Nuraini, isteri saya, orang tua isteri saya tidak pernah menyukai saya. Bahkan, mereka tidak merestui pernikahan kami kecuali karena terpaksa. Ayah dan ibunya terpaksa menikahkan kami karena Aini sudah hamil.
Setelah menikah, hidup kami sangatlah sulit. Keluarga Aini, terutama ayah dan ibunya, tidak pernah menganggap saya sebagai bagian dari keluarga mereka. Saya merasa seperti orang asing yang tinggal di rumah besar dan mewah mereka, karena ayah Aini dikenal sebagai orang terkaya di daerah tempat tinggalnya.
Karena tidak tahan dengan perlakuan mereka, dua bulan setelah menikah, saya membawa Aini ke rumah orang tua saya. Meskipun ayah dan ibunya tidak setuju, mereka tidak bisa menghalangi keputusan saya, apalagi Aini juga setuju. Di rumah orang tua saya yang sederhana, kami mencoba membangun kebahagiaan. Kehadiran Aini membawa keceriaan di rumah, dia cepat akrab dengan ibu dan kedua adik saya. Meskipun hidup dalam keterbatasan, kami selalu memiliki tawa dan kebahagiaan.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, saya sering merasa sedih karena menyadari bahwa kehadiran saya dan Aini menambah beban ekonomi keluarga. Ibunda saya telah menderita sejak ayah meninggal dua tahun lalu. Dia harus menanggung semua kebutuhan keluarga sendirian, dari kebutuhan dapur hingga biaya sekolah adik-adik saya. Sebagai anak sulung, terutama anak laki-laki, seharusnya saya ikut menanggung beban tersebut. Namun, keadaan telah membuat saya terpisah dari keluarga.
Cinta saya pada Ana Nuraini adalah perpaduan rasa ingin memiliki dan kemarahan. Saya tidak hanya terpesona oleh kecantikannya dan ingin memiliki cintanya, tetapi saya juga ingin merubah hidup saya setelah menikahi gadis dari keluarga kaya. Namun, mimpi indah tidak selalu menjadi kenyataan.
Saya bisa memiliki hati Aini, tetapi tidak keluarganya. Mereka sangat membenci saya dan menganggap saya tidak pantas untuk Aini. Mereka juga menganggap saya sebagai penghalang perjodohan antara Aini dan Abdul Majid.
"Ibu akan memberikan apapun yang Heri minta, asalkan dia meninggalkan Aini!" Itulah tawaran ibu Aini setelah mengetahui hubungan saya dengan anaknya. Saat itu, saya terkejut dan tidak bisa memberikan jawaban. Bagi saya, tidak ada yang salah dengan hubungan kami. Cinta tidak memandang kasta atau kekayaan, jadi mengapa harus ada tawar menawar untuk ini?
Aini sangat mencintaiku dan tidak peduli dengan pendapat orang tua atau keluarganya. "Aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini," katanya. Meskipun keluarganya marah dan hampir mengusirnya dari rumah serta mencabut statusnya sebagai anak, ibunya menyadari kesalahannya dan membantu kami menikah.
Ketika kami merasakan cinta dalam kehangatan senja, kami menyadari bahwa kehamilan Aini tidak menjadi penyesalan. Dia bersedia menjalani hidupnya bersama saya meskipun keluarganya menentang. Kami merasakan kebahagiaan meskipun harus menghadapi cobaan. Namun, cinta kami tetap tidak bisa disalahkan.
Beginilah kisah cinta yang penuh liku-liku antara Aini dan saya. Begitu banyak cobaan dan hinaan yang harus kami hadapi, begitu banyak cacian yang harus kami terima, dan entah berapa kali air mata harus tertumpah, hingga akhirnya kami bisa bersatu sepenuhnya. Melihat dari realitas ini, saya bersumpah untuk tidak menyia-nyiakan Aini. Dan Aini pun bersumpah untuk tidak akan pernah menyia-nyiakan cintaku padanya. Namun, pengorbanan yang dilakukan Aini juga sama besarnya dengan yang saya lakukan.
"Berat rasanya melepas kepergianmu. Tapi sejujurnya, aku bangga dengan pilihanmu, karena dengan itu kau membuktikan bahwa kau mampu membuatku bahagia," bisik Aini, di malam terakhir sebelum saya berangkat ke tempat penampungan TKI di Jakarta, sebelum akhirnya saya diberangkatkan ke Saudi Arabia.
"Aku pasti akan merasakan kehilangan yang begitu besar, Sayang! Tapi, aku berjanji akan tetap tabah dan setia padamu," jawab saya sambil membelai wajahnya yang halus.
"Aku berjanji akan merawat cinta kita dengan sebaik-baiknya," ucapnya sambil memelukku sambil menangis.
Perpisahan selalu menyakitkan. Tetapi, itu adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Setelah saya berada di penampungan TKI di Jakarta, pada hari yang ditentukan, akhirnya saya harus diterbangkan ke negeri tujuan. Sebelum lepas landas di bandara Soekarno-Hatta, saya masih sempat menelepon kekasih hati dan jiwaku. Dari jauh, saya bisa mendengar isakan Aini.
"Aku tak ingin kau mengucapkan selamat tinggal dengan tangisan, Sayang! Percayalah, ini adalah proses untuk cinta kita yang besar dan suci. Tetaplah tabah, Sayang! Pesanku, jaga anak kita dengan baik, karena dia adalah ikatan cinta sejati kita," kata saya mencoba tetap tegar, meski air mata menetes.
"Aku berjanji untuk tidak akan pernah menyia-nyiakan cinta kita. Pergilah, Sayang! Aku akan mendoakan agar kau kuat dan berserah," jawab Aini sambil mencoba menahan tangisnya.
Keputusan untuk menjadi TKI ke Saudi Arabia harus saya ambil demi memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Alhamdulillah, proses ini hampir berjalan lancar, kecuali dari segi finansial. Ibu terpaksa menjual kalung emas warisan almarhum ayah seberat 20 gram, dan Aini pun harus melepas semua perhiasannya.
Semuanya tampaknya berjalan baik. Sekitar seminggu setelah saya mengirim seluruh gaji pertama saya setelah tiga bulan bekerja di Arab Saudi, saya kembali menelepon Aini yang tinggal bersama ibu dan adik-adik saya. Seperti ibu yang senang mendapat uang dan kabar baik dari saya, Aini juga berbicara dengan sukacita.
"Aku sudah membelikan cincin dan boneka yang pandai menangis untuk anak kita, Sayang! Dia begitu senang. Dia pasti tahu bahwa ayahnya sudah berhasil dalam perjuangan. Ah, aku senang mendengar kabar baikmu. Insya Allah, keluarga di sini juga tidak kekurangan apa pun," katanya antusias, membuat hati saya lega.
Awalnya, kebahagiaan sepertinya akan terus menghampiri kami semua. Namun, bayangan itu lenyap begitu saja. Ketika masa kerja saya di Saudi Arabia memasuki bulan kesembilan, dan saya sudah mengirimkan uang gaji saya kembali ke tanah air, tiba-tiba saya mendengar kabar buruk. Ya, Nuraini, istri yang sangat saya cintai, hilang. Dia tidak pernah kembali ke rumah setelah mengambil kiriman uang saya di bank di pusat kota Tasikmalaya.
"Ibu harap kamu kuat menghadapi ini, Nak! Kami semua sudah mencari, namun belum menemukannya," kata ibu saya melalui telepon. Aini sudah hilang selama seminggu saat saya menelepon.
"Bagaimana Syifa, Bu? Apa dia dalam keadaan baik?" tanyaku, mencoba tetap tabah. Syifa adalah nama anak kami yang baru berusia satu tahun.
"Alhamdulillah, dia sehat-sehat," jawab ibu saya sambil menahan tangisnya. Dia mengingatkan saya, "Ingat, kamu harus kuat, Her! Doakan agar kami bisa segera menemukan isterimu."
"Insya Allah, Bu! Saya akan mencoba yang terbaik," jawabku sambil menitikkan air mata.
Sulit untuk membayangkan bagaimana Aini bisa hilang. Apakah dia menjadi korban kejahatan, atau terlibat dalam kecelakaan? Atau mungkin ada hal buruk lain yang menimpanya?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di pikiran saya, membuat saya cemas. Saya merasa terjebak di negeri yang begitu jauh. Jika saya berada di dekat, tentu saja saya akan pulang segera untuk mencari Aini. Namun, saya terikat kontrak kerja selama 2 tahun.
Setelah mendengar kabar yang mengguncang hati saya, saya berdoa dan memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Namun, bagaimana caranya?
Alhamdulillah, saya pernah belajar Bahasa Inggris selama lima semester. Kedua majikan saya, yang merupakan dokter-dokter yang pandai berbahasa Inggris, sepertinya tersentuh dengan kisah sedih yang saya ceritakan. Akhirnya, mereka memberi izin cuti sebulan dengan syarat saya membayar separuh tiket pulang pergi.
Dengan hati penuh syukur, saya menerima kesempatan ini dan bersiap untuk kembali ke tanah air. Saya pun segera menelepon Aini untuk memberitahu kabar baik ini. Semoga Allah memudahkan segala urusan kami dan membimbing langkah-langkah kami.
Ringkas cerita, akhirnya aku kembali ke Tanah Air. Setibanya di rumah, aku disambut dengan rasa heran dan sukacita. Aku baru menyadari apa sebenarnya yang terjadi setelah mendengar cerita dari ibuku. Ibu bercerita bahwa hampir sebulan sebelum Aini hilang, menantuku sering menunjukkan sikap aneh. Misalnya, ibu sering melihat Aini duduk sendirian di ruang tengah rumah.
"Aku tidak bisa tidur, Bu! Hati saya gelisah, jantung saya berdebar-debar tak menentu," begitu jawaban Aini ketika ditanya oleh ibu.
Tak hanya itu, beberapa malam sebelum Aini menghilang, ibu sering mendengar Aini menangis sendirian di tengah malam. Namun, ketika ibu memeriksa, Aini sudah tertidur pulas. Saat ibu membangunkannya, Aini terjaga dan langsung memeluk ibu sambil menangis.
"Saya takut, Bu! Seseorang ingin membawa saya pergi. Dia memaksa, dia menyeret saya," ucap Aini di antara isak tangisnya.
Mendengar cerita Maya, adikku, Aini dan dia menunggu angkutan kota di tepi jalan setelah pergi ke Bank. Tiba-tiba, seorang pria berkaca mata hitam menghampiri mereka dan memeluk Aini, lalu mengajaknya masuk ke mobil. Maya mencoba menarik Aini, namun pria itu membentaknya dan mendorongnya hingga jatuh.
Setelah mendengar ciri-ciri pria tersebut, aku yakin bahwa pria berkaca mata hitam itu adalah Abdul Majid, mantan kekasih Aini. Aku mencurigai bahwa Abdul Majid merasa dendam karena aku telah merebut Aini darinya. Pernikahan kami membuatnya sangat sakit hati.
Ancaman Abdul Majid yang tertera di dalam kado yang diberikannya kepada Aini semakin menguatkan dugaanku. Aku tak pernah menganggap ancaman itu serius, namun kini aku menyadari bahwa Abdul Majid benar-benar serius.
Melihat anak kami, Syifa, menangis dan merindukan ibunya, aku merasa tak tahan. Aku memutuskan untuk mencari tahu keberadaan Aini. Pertama kali aku mengunjungi rumah orang tua Abdul Majid di Bandung, namun yang aku temui hanyalah seorang pria tua sebagai penjaga kebun.
"Tuan dan Nyonya sudah tinggal di luar negeri selama beberapa waktu, Den!" ujar pria tua itu.
"Anak-anaknya ke mana, Pak?" tanyaku.
"Wah, Tuan dan Nyonya hanya memiliki tiga anak. Mereka sudah dewasa. Yang tertua tinggal di Yogya dengan suaminya, yang kedua juga sudah menikah dan tinggal di Palangkaraya. Yang bungsu jarang pulang..."
"Maksudnya Abdul Majid, Pak?" potongku.
"Ya, siapa lagi?" tegas Pak Tua. Melihat kebingunganku, dia melanjutkan, "Katanya, Aden ini temannya, kok malah bingung sih. Sudah hampir tiga bulan Den Majid tidak pulang. Katanya di Jakarta!"
Kutelan ludah yang terasa getir. Jika benar Abdul Majid tidak pulang selama tiga bulan, berarti dia memang pergi bersama Aini. Mungkin di Jakarta, atau mungkin di tempat lain.
"Kalau di Jakarta, Majid biasanya tinggal di mana, Pak?" tanyaku sambil berusaha menyembunyikan perasaan.
Lelaki tua itu tersenyum. Katanya, "Wah, mana saya tahu. Dia kan orang kaya. Jadi, bisa tinggal di mana saja, Den. Ngomong-ngomong, kenapa Aden tidak pernah mencoba menghubunginya?"
"Apakah Bapak tahu nomornya?" tanyaku, merasa ada sedikit titik terang.
Lelaki itu mengeluarkan dompet usangnya. Dia membuka secarik kertas yang sudah lecek, lalu memberikannya padaku. Di sana tertulis nomor HP Abdul Majid.
Pak tua tukang kebun yang tidak mengerti masalahku dengan Abdul Majid memberikan sedikit harapan bagiku. Nomor yang diberikannya sungguh nomor HP Abdul Majid. Saat kucoba menghubunginya, di seberang sana, kudengar suara Abdul Majid.
"Kumohon, kembalikan Aini. Bukan untukku, tapi untuk bayi kita yang membutuhkan kasih sayangnya," mohonku lewat telepon.
Abdul Majid malah menertawakan permintaanku. Dia berkata, "Aku akan mengembalikan isterimu. Tunggu sampai aku puas membalaskan dendamku."
"Bunuh aku saja, Majid!" seruku.
Tapi, tak ada jawaban. Abdul Majid memutuskan sambungan. Nomor HP-nya tak bisa dihubungi lagi. Setiap kali dihubungi, mesin operator menjawab dengan kalimat berulang: "ANDA TERHUBUNG DENGAN PELANGGAN NOMOR VOICE MAIL 08118998XXX."
Meskipun hanya berbicara sekali dengan Abdul Majid lewat telepon, kata-katanya jelas menunjukkan bahwa Aini berada dalam genggamannya. Bayangan itu membuat dadaku terasa sakit. Hanya suami yang tak waras yang rela isterinya diambil orang lain.
Aku yakin Abdul Majid menggunakan ilmu hitam untuk mengendalikan Aini. Nuraini sering duduk sendirian di malam hari dan menangis dalam tidurnya. Beberapa orang mengatakan bahwa Nuraini berada di bawah pengaruh ilmu gaib yang kuat. Bahkan, Nuraini lupa pada keluarga dan aku.
Sudah hampir 4 bulan Nuraini hilang. Kecuali percakapanku dengan Abdul Majid, tak ada kabar dari Nuraini. Aku menelepon pihak berwajib, tapi tak ada kabar baik.
Dengan harapan, aku menulis kisah hidupku di majalah ini. Semoga pengasuh rubrik ini bisa membantu aku menemukan Aini. Jika aku tak bisa mendapatkannya kembali, setidaknya aku ingin tahu keadaannya. Semoga Tuhan mengabulkan doaku!
Sesuai dengan permintaan Anda, berikut ini saya berikan sebuah amalan penerawangan yang mungkin bisa membantu Anda melihat keadaan gaib isteri Anda. Berikut adalah amalan tersebut:
"ALLAAHUMMA ANTAS SALAAM QODIA HAAJATIL GOIBU, WA ALIMUL GOIBU WAS SYAHADATIL KHOBIIRUL MUTA’AL. ALLAAHUMMA MAN KHOLAQ. WA HUAL LATIIFUL KHOBIIR.
Untuk melaksanakan amalan ini, ada beberapa syarat dan langkah yang harus Anda ikuti:
1. Berpuasa selama 3 hari dimulai pada hari Selasa Kliwon.
2. Selama berpuasa, amalan di atas harus dibaca sebanyak 13 kali, dilanjutkan dengan mewiridkan YA KHOBIIR sebanyak 812 kali.
3. Selama berpuasa, lakukan sholat hajat di tengah malam. Setelah itu, bacalah Istigfar sebanyak 1000 kali, kemudian Sholawat sebanyak 100 kali, amalan di atas sebanyak 13 kali, dan terakhir mewiridkan YA KHOBIIR sebanyak 812 kali.
Itulah solusi yang dapat saya berikan. Semoga Anda memiliki waktu untuk melaksanakannya. Semoga Allah SWT meridhoi usaha Anda. Saya akan mendukung dengan doa yang tulus.

0 komentar:
Posting Komentar