728x90 AdSpace

­

Latest News

Selasa, 14 April 2026

Jejak Hasrat Wanita Peri Buas


Keberadaan makhluk siluman di bumi Tuhan ini memang sudah menjadi hal yang sangat dikenal. Keyakinan akan keberadaan makhluk gaib tersebut sudah berkembang sejak zaman nenek moyang di era primitif. Bahkan di zaman sekarang, para siluman sering masuk ke dalam dimensi kehidupan manusia di dunia nyata. Mereka menggoda, menipu, bahkan berusaha untuk menguasai orang yang tidak memiliki iman secara lahir maupun batin. Kisah misteri yang akan saya ceritakan ini adalah contoh nyata dari banyak kasus yang pernah terjadi, di mana manusia dan siluman diyakini dapat hidup bersama dengan memenuhi syarat-syarat tertentu yang telah disepakati sebelumnya.

Pada akhir bulan November tahun 2008, saya dihubungi oleh seorang teman di Medan melalui telepon. Dia menawarkan pekerjaan yang menarik di ibukota Sumatera Utara. Saya yang sudah cukup lama menganggur setelah di-PHK di sebuah perusahaan pengeboran minyak asing di daerah Riau sangat tertarik dengan tawaran teman tersebut, meskipun harus meninggalkan sementara keluarga di kota Pekanbaru.

Saya dan Darwis Tanjung, teman yang menghubungi saya, ternyata adalah teman sekampus di Medan. Setelah lulus sarjana ekonomi, saya pergi merantau ke Riau untuk bekerja, sementara Darwis lebih memilih berwirausaha, meneruskan bisnis keluarganya yang memiliki toko-toko barang antik dan kuno di berbagai kota di Sumatera. "Untuk sementara waktu, kamu bisa tinggal bersama kami," ajak Darwis ketika menjemput saya di Bandara Polonia Medan.

"Bukan bermaksud sombong, namun rumahku yang cukup besar terletak di kawasan elit Perumahan Bumi Asri," ucapnya sambil memperkenalkanku pada Rasiam, seorang wanita cantik berkulit sawo matang dengan mata sipit yang ramah saat menyambut uluran tanganku dengan senyuman.

Hari pertama di Medan, Darwis terlihat tak mau menyia-nyiakan waktu. Dia langsung membawaku ke tokonya yang menjual barang-barang antik di Kesawan dan Petisah. Kami berkenalan dengan para petugas dan pelayan toko di sana. Darwis mengumumkan kepada mereka bahwa aku akan diangkatnya sebagai manajer pemasaran dan wakil pemilik usahanya.

Pagi itu saat sarapan, Darwis memberitahuku bahwa dia akan pergi ke Jakarta bersama rombongan dari Dinas Purbakala untuk membahas kasus pencurian barang-barang antik. "Selama aku tidak ada, uruslah semua kegiatan di toko-toko Kesawan dan Petisah," pesannya ketika aku mengantarnya ke bandara Polonia. "Tapi jika ada hal yang rumit, jangan ragu untuk menghubungiku lewat handphone!"

Malam pertama tinggal bersama Rasiam membuatku gelisah. Kami jarang berkomunikasi sejak aku tinggal bersamanya, dan Rasiam terlihat pendiam dan misterius. Dia sering menghabiskan waktunya sendirian di kamar meskipun suaminya mengajaknya untuk berbincang.

Setelah makan malam, aku duduk di ruang tamu sambil membaca koran sore. Saat mataku mulai terasa berat, aku memutuskan untuk tidur. Namun tiba-tiba aku mendengar suara mengeluh dan mengaduh. Aku bergegas untuk memeriksa asal suara itu, dan menduga bahwa suara itu berasal dari kamar sebelah, kamar pasangan suami istri.

Meskipun ragu, aku akhirnya memutuskan untuk memeriksa keadaan Rasiam di kamarnya. Ternyata dia membutuhkan pertolongan, karena terlihat kesakitan di atas tempat tidur.

Aku sudah siap untuk menghubungi dokter ketika telepon di ruang tamu berdering. Segera aku angkat, ternyata panggilan dari Darwis di Jakarta. "Maaf Andi, ada yang terlupa, aku minta tolong agar malam ini dan seterusnya ketika aku tidak di rumah, menyiram dan memandikan sebuah patung buaya yang terbuat dari tembaga dan dibalut besi kuningan yang berada di ruangan khusus penyimpanan barang-barang dagangan di belakang dekat dapur," kata Darwis dari ujung telepon.

Aku ingin menanyakan sesuatu namun pembicaraan singkat itu terputus. Meskipun masih ada pertanyaan di hati, aku melakukannya dengan patuh dan bergegas ke tempat penyimpanan barang-barang kuno. Di dalamnya, aku melihat beberapa benda berjejer di dinding, dan di tengah ruangan terdapat sebuah patung buaya sepanjang sekitar satu meter berada dalam posisi tiarap di lantai dengan rahang terbuka lebar. Sesuai permintaan Darwis, aku menyiram patung buaya tersebut dengan air dari drum kecil di dekatnya. Anehnya, saat air mengenai patung, rahangnya tiba-tiba menutup. Dan tanpa disadari, Rasiam tiba-tiba muncul di dekatku dengan kondisi yang segar dan wajah sumringah. Tampaknya, aku tidak perlu lagi memanggil paramedis untuknya. "Terima kasih, Bang," ucapnya sambil berlalu, membuatku bingung karena tidak tahu apa yang dia syukuri.

Esok paginya, Rasiam tampil lebih menarik dengan daster tipis yang menonjolkan kecantikannya. Kami terlibat dalam obrolan yang menyenangkan di depan kaca TV. Perubahan drastis dalam penampilan dan perilakunya membuatku terkesan. Tiba-tiba, obrolan kami berubah menjadi curhatan Rasiam tentang hubungannya dengan Darwis yang tidak bahagia karena kurangnya kepuasan dalam hubungan intim. Aku merasa iba mendengarnya, karena hubungan suami istri yang tidak harmonis sering terjadi. Bagi wanita, kebahagiaan bukan hanya dari materi, tapi juga kepuasan batin dalam berhubungan suami istri.

Pelan, Rasiam memanggil, "Bang..." Aku kembali ke kenyataan dan bertanya, "Ada apa?" Dia meminta bantuan, namun ketika dia menyarankan hal yang tidak pantas, aku menolak dengan tegas. Rasiam menunjukkan senyuman jahat, lalu tiba-tiba aku terbawa ke dalam kamar. Tanpa sadar, aku berbaring di sampingnya yang telanjang. Seperti binatang liar, dia menyerang dan merobek pakaianku hingga total telanjang. Adegan yang tidak pantas itu membuatku terkejut.

Tak lama kemudian, jantungku hampir copot karena terhantui ketakutan saat bayangan anak-anak dan istriku muncul dalam fantasi halusinasi. Mereka berteriak-teriak, berusaha mencegahku dari perbuatan tercela ini. Aku spontan melepaskan tubuhku sebelum senjata pamungkas milikku berperan aktif. Saat yang bersamaan, gairah seksualku menurun drastis, alat vitalku menjadi lemah dan loyo. Ketika aku sadar sepenuhnya, aku hanya bisa terpana. Aku menyadari bahwa aku telah kehilangan kendali karena energi gaib dari luar yang membuatku kehilangan akal sehat. Aku lupa pada Tuhan, dosa, dan keluarga. Dalam sekejap, aku melihat penampakan yang aneh dan menyeramkan. Aku melihat seorang perempuan cantik bangkit dari pembaringan, tapi wujudnya berubah menjadi kepala buaya dengan rahang terbuka lebar. Wajahnya bersisik hijau kehitam-hitaman, namun dari leher ke bawah masih terlihat tubuh perempuan telanjang. Taring-taringnya yang tajam dan berkilat-kilat mengaum, seakan ingin mengunyah tubuhku yang telanjang saat itu.

Aku mencoba menjauh, tapi makhluk misterius itu lebih cepat. Tangannya yang masih manusia meraihku dan dengan kekuatan yang tidak terduga, ia melemparkan tubuh telanjangku ke luar jendela. Setelah itu, aku tak ingat apa yang terjadi. Saat aku sadar, aku melihat wajah prihatin Darwis Tanjung di depanku.

"Maaf, aku selama ini menutup-nutupi masalah pribadiku kepadamu, Andi... hingga kau hampir menjadi korban!" ujarnya dengan penyesalan.

Darwis menceritakan bahwa beberapa bulan yang lalu, ia membeli patung buaya kuno dari seorang warga desa dekat kota Sibolga. Patung itu ditemukan di pinggir pantai dan Darwis berniat menjualnya dengan harga tinggi karena kolektor benda antik tertarik padanya. Namun, saat ia bermimpi didatangi oleh pria tua bersorban dan berjubah merah tua, segalanya berubah. Pria itu memberi peringatan akan bahaya yang terkandung dalam patung buaya itu dan Darwis pun memutuskan untuk tidak menjualnya.

Orang tua melarang Darwis menjual patung buaya tersebut dan menyuruh agar patung itu disiram dengan air kembang tujuh rupa pada waktu-waktu tertentu. Setelah beberapa kali mendapat arahan dalam mimpi, hari itu seorang perempuan cantik datang ke rumah Darwis. Sang tamu mengaku sebagai pemilik patung buaya dan meminta agar Darwis mengembalikannya. Namun, jika Darwis ingin memilikinya, si perempuan cantik yang bernama Rasiam itu meminta agar mereka menikah secara diam-diam dan rahasia.

Darwis menerima permintaan tersebut karena Rasiam mengaku tidak memiliki identitas yang jelas dan hidup sebatang kara. Mereka menikah diam-diam, namun kemudian Darwis menyadari bahwa Rasiam sebenarnya adalah seorang perempuan siluman dari komunitas siluman buaya.

Setelah Rasiam dan patung buaya itu menghilang, aku merasa terpukau dengan kisah Darwis. Kejadian menyeramkan itu membuatku trauma dan aku memutuskan untuk pulang ke Pekanbaru. Aku masih teringat dengan perempuan siluman buaya yang seks maniak dan berharap dia tidak akan kembali.

Setelah tiba di Pekanbaru, aku masih merasa kacau. Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan di Medan dan istriku membawaku berobat secara alternatif. Pengalaman mistis bersama perempuan siluman buaya membuatku mengalami trauma, namun berkat terapi, aku akhirnya pulih.

Beberapa bulan kemudian, aku mendapat kabar bahwa temanku Darwis tewas dalam kecelakaan lalu lintas setelah aku kembali ke Pekanbaru. Rumahnya terbakar dan toko barang antiknya menjadi rebutan para ahli waris. Ternyata, kejadian itu meninggalkan berbagai konflik dan sengketa di antara mereka.


 

Jejak Hasrat Wanita Peri Buas
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Top